A. Pendahuluan
Di tahun 2007 silam saya masih ingat
betul bagaimana kondisi di daerah wonokromo sampai dengan wonocolo sepanjang
jalan Ahmad Yani. Daerah tersebut mestinya berbeda dari apa yang sekarang dapat
kita lihat sendiri. Dahulunya sebelum program pembangunan jalan Front Tage Road
(FTR) dilaksanakan oleh pemerintah Kota Surabaya masih terlihat
bangunan-bangunan rumah penduduk serta tanah-tanah kosong yang memang sudah
sengaja dipersiapkan oleh pemiliknya untuk program pembangunan jalan FTR.
Bahkan sebagian perusahan ada yang sengaja telah membangun jalan sebelum jalan FTR
dibangun. Seperti Maspion Square dan Jatim Expo yang telah membangun jalan raya
di area perusahaan yang akan di lewati jalan FTR.
Selanjutnya, saya tidak akan membahas
secara detail bagaimana proses pembangunan jalan FTR oleh Pemerintah Kota
Surabaya. Tetapi, berkaitan dengan komunikasi antar budaya sebagai titik tolak
pada tulisan ini, akan dipaparkan tentang bagaimana pembangunan turut serta
dalam pengembangan komunikasi antar budaya bagi masyarakat baik yang secara
langsung terkena dampak pembangunan maupun masyarakat yang memanfaatkan hasil
dari pembangunan itu sendiri.
B. Pedagang Kaki Lima Front Tage Road
Lebih
kurang ditahun 2009 silam Pemerintah Kota Surabaya mulai melaksanakan program
pembangunan jalan FTR disisi timur jalan A.Yani. Pembangunan tahap pertama menyelesaikan
penggarapan mulai dari depan Rumah Sakit Angkatan Laut (Rumkital) dr. Ramelan hingga
pertigaan lampu merah Margo Rejo atau depan pusat perbelanjaan Maspion Square
Margorejo. Kemudian pada pembangunan tahap berikutnya adalah kawasan Kelurahan
Jemur Sari. Begitu pembanguna dilaksanakan ternyata mengalami hambatan karena
terkendala proses pembebasan lahan Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
(IAIN SA) Surabaya belum selesai. Sehingga tahap pembangunan kedua FTR ini
terhenti pada batas lapangan parkir selatan Jatim Expo yang kebetulan
berdampingan dengan IAIN SA. Dari sinilah kita akan memulai menguraikan catatan
cerita mengenai pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang jalan FTR (Rumkital
sampai parkiran selatan Jatim Expo).
Begitu pembangunan jalan FTR sisi timur
jl. A. Yani selesai (Rumkital sampai parkiran selatan Jatim Expo) kawasan ini
seakan menjadi tempat tersubur di Kota Surabaya untuk ditanami warung-warung
kecil nonpermanen atau biasa kita sebut PKL. Mulai dari warung kopi dan
minuman, makanan ringan sampai makanan berat (nasi, mie) tumpek blek memenuhi
sepanjang trotoar FTR. Keadaan ini sangat berbeda ketika jalan FTR sama sekali
belum dibangun. PKL ini rata-rata pindahan dari tempat lain yang telah digusur
dan sebagian besar lain merupakan PKL baru yang ikut memanfaatkan keramaian.
Dalam sekejap ratusan PKL dan ribuan pengunjung ramai memadati jalan yang baru
saja selesai digarap oleh Pemerintah Kota Surabaya. Selama berbulan-bulan jalan
FTR sepanjang Rumkital dr. Ramelan sampai dengan parkiran selatan Jatim Expo
dipadati PKL dan para pengunjungnya. Tempat ini sepertinya menjadi kawasan PKL
terpadat dan mengalahkan tempat-tempat PKL lain di Surabaya.
Nampaknya keadaan ini membuat gerah
pemerintah sehingga pemerintah menurunkan beberapa kompi personel Satpol PP
untuk mengusir dan menjaga jalan baru kota Surabaya yaitu FTG. Jalan FTG yang
berada di dua kecamatan (Wonokromo dan Wonocolo) masing-masing dijaga oleh
Satpol PP pada wilayahnya masing-masing. Wonokromo untuk FTR sepanjang Rumkital
dr. Ramelan hingga pertigaan lampu merah Margorejo dan jalan FTR sisanya sampai
dengan parkiran selatan Jatim Expo untuk Wonocolo.
Para PKL yang berasal dari berbagai macam
daerah ini seperti bermain kucing-kucingan dengan aparat pemerintah tersebut.
Wajar saja pemandangan seperti ini, dan kucing-kucingan adalah jurus andalan
yang selalu digunakan oleh PKL ketika menghadapi musuh utama mereka, yaitu
Satpol PP. Usaha seperti ini biasanya selalu berhasil karena mereka menggunakan
bangunan nonpermanen atau gerobak dorong untuk berjualan. Ditambah lagi mereka
yang belum saling kenal satu dengan yang lainnya menjadi kendala tersendiri
untuk mengatasi permasalahan ini.
Jika kita mau belajar dari para PKL-PKL
di daerah Surabaya lainnya yang berhasil mengatasi permasalahan kucing-kucingan
dengan pemerintah, karena dengan waktu yang lama mereka berjualan di daerah
tersebut dan seakan tempat tersebut sudah seperti milik mereka sendiri mereka
mampu menciptakan sebuah lingkungan sosial baru antara pedagang dan pembeli.
Terutama dikawasan taman-taman Kota Surabaya, dengan berhasilnya menciptakan
lingkungan sosial baru pemerintahpun dengan kekuasaan dan kebijakan yang
dimiliki mengakomodir wilayah-wilayah tersebut menjadi sentra PKL yang pada
akhirnya menjaga wilayah tersebut tetap ramai dan menjadi tempat resmi sebagai lahan
pekerjaan masyarakat. Meskipun dengan konsekuensi mereka harus menyewa tempat
yang didirikan oleh pemerintah tersebut.
Falsafah jawa “tresno jalaran soko kulino” sangat pas untuk diucapkan kepada para PKL FTR
sisi timur jalan A. Yani. Setelah aktifitas berdagang mereka sempat dilarang
oleh pemerintah, kini mereka tetap eksis dan mampu mempertahankan aktifitas
berdagang disepanjang jalan FTR. Perbedaan latar belakang dan budaya para PKL
seakan tak menjadi soal demi keberlangsungan hidup diesok hari. Perasaan
senasib dan seperjuangan yang mereka rasakan tentunya menjadi kekuatan
tersendiri dan memberikan spirit lebih bagi para PKL. Hal ini terbukti ketika
kehadiran PKL jalan FTR juga memberikan lahan baru untuk para JUKIR (juru
parkir) yang ikut mengais rejeki dari keberadaan para PKL jalan FTR sisi timur
jl. A. Yani..
C.
Munculnya Budaya Baru (Urban Culture)
Kita semua tentunya sudah tahu dan faham
dengan fenomena PKL di Surabaya ataupun kota-kota besar lainnya. Bagai petani
yang selalu waspada dengan bahaya hama yang sewaktu-waktu dapat menyerang dan
merusak tanamannya. Begitu pula dengan para PKL, mereka selalu waspada dengan musuh
utamanya yaitu kebijakan pemerintah yang diwakili eksekutornya Satpol PP. Apa
hubunganya hama tanaman dan Satpol PP? Tentu tidak ada. Ini hanyalah sebuah
analogi saja untuk memudahkan dalam berpikir. Petani tentu senang untuk merawat
tanamannya, dan tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain melihat hasil
tanaman mereka subur tanpa adanya antisipasi terhadap serangan hama yang sewaktu-waktu
dapat muncul dan menghabiskan tanaman mereka. Seperti para petani, para PKL pun
akan senang apabila dagangan mereka laris tanpa peduli dimana mereka harus
mendirikan dan menempatkan warung-warungnya.
Petani dan hama tentu memiliki naluri
yang berbeda, sama seperti PKL dan pemerintah juga memiliki naluri serta budaya
yang sangat jauh berbeda. Pemerintah mungkin memikirkan nasib rakyatnya akan
tetapi sejauh mana pemerintah berfikir mengenai nasib masyarakat dan solusinya
tentu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mewujudkannya. Sedangkan para
PKL tak mungkin berpikir lama-lama untuk dapat membeli sembako esok hari,
memberi makan keluarga dan membayar iuran sekolah anak-anak bulan ini.
Komunikasi sosial dan budaya terjadi
karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat yang memiliki latar belakang
dan budaya yang berbeda. Pada kondisi ini masyarakat akan menghasilkan sebuah
budaya baru dalam lingkungan dimana mereka melangsungkan proses interaksi tersebut.
Bagaimana perilaku masyarakat dirumah atau dikampung halaman tentu berbeda
dengan perilaku mereka ketika berada dilokasi pekerjaan. Apalagi para PKL liar
(menurut pemerintah) yang tidak memiliki kepengurusan dan pihak pengelola yang
jelas. Secara perilaku pasti dapat kita bedakan bagaimana perilaku PKL
terorganisir dan PKL tak terorganisir (liar). Diantara mereka memiliki tingkat kecemasan
yang berbeda-beda. Terutama PKL tak terorganisir (liar) pasti memiliki tingkat kecemasan
lebih tinggi ketimbang para PKL yang terorganisir. Karena mereka merasa tidak
aman dan sewaktu-waktu mereka dapat terusir dari lahan yang mereka gunakan
untuk mendirikan dan menempatkan warungnya.
Lahirnya sebuah budaya baru dalam lingkup
masyarakat sering terlambat untuk kita ketahui apalagi kita sadari. Seperti halnya
para PKL FTR ini, mereka melahirkan budaya baru pada lingkungan pekerjaan
mereka sebagai dampak pembangunan yang kemudian menghilangkan kendala-kendala
komunikasi yang menjadi alat utama interaksi sosial mereka. Bahkan budaya baru
dapat terbentuk dengan sendirinya tanpa disadari dan membantu dalam
melangsungkan hidup pada kumpulan masyarakat baru. Bukan dalam pengertian sempit, yaitu: sekedar
pemenuhan kebutuhan basis material masyarakat di negara-negara dunia ketiga
(baca: pembangunan ekonomi) semata. Tetapi termasuk realisasi basis immaterial
seperti dimensi spiritual, etika dan nilai-nilai lainnya
(materi kuliah Komunikasi Sosial Dan Budaya, Mochtar W Oetomo, UNITOMO)
Layaknya
sebuah siklus atau metamorforsis yang selalu berjalan dan berubah-rubah,
kondisi sosialpun demikian. Interaksi sosial masyarakat pada titik tertentu
akan mengalami sebuah perubahan sesuai apa yang terjadi pada proses interaksi
sosialnya. Interaksi sosial masyarakat yang pada titik tertentu yang dilakukan
masyarakat urban sehingga membentuk sebuah budaya baru dan menghilangkan
kendala-kendala dalam proses hubungan komunikasi antar budaya saya sebut
sebagai Urban Culture.
D. Penutup
Kerjasama timbul karena orientasi
orang-perorangan terhadap kelompoknya (in-group-nya) dan kelompok lainya
(out-group-nya). Seperti usaha yang dilakukan para PKL FTR untuk tetap menjaga
eksistensi usaha perdagangan di area terlarang memaksa mereka untuk berurusan
dengan pemerintah. Tanpa adanya kerjasama diantara para PKL FTR mustahil mereka
mampu bertahan (melangsungkan aktifitas berdagang) pada area terlarang
tersebut. Sebagai bentuk proses interaksi yang asosiatif, kerjasama adalah
suatu usaha bersama antara orang-perorangan atau kelompok manusia untuk
mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama (Gillin dan Gillin). Maka dari hasil
kerjasama inilah proses interaksi anatar masyarakat yang memiliki latar belakang
dan budaya berbeda-beda secara tidak sengaja menghasilkan dan membentuk sebuah
budaya baru didalam kelompok baru tersebut.

0 komentar:
Posting Komentar