RSS

Selasa, 02 April 2013

Urban Culture (Komunikasi Sosial Budaya)


A. Pendahuluan
       Di tahun 2007 silam saya masih ingat betul bagaimana kondisi di daerah wonokromo sampai dengan wonocolo sepanjang jalan Ahmad Yani. Daerah tersebut mestinya berbeda dari apa yang sekarang dapat kita lihat sendiri. Dahulunya sebelum program pembangunan jalan Front Tage Road (FTR) dilaksanakan oleh pemerintah Kota Surabaya masih terlihat bangunan-bangunan rumah penduduk serta tanah-tanah kosong yang memang sudah sengaja dipersiapkan oleh pemiliknya untuk program pembangunan jalan FTR. Bahkan sebagian perusahan ada yang sengaja telah membangun jalan sebelum jalan FTR dibangun. Seperti Maspion Square dan Jatim Expo yang telah membangun jalan raya di area perusahaan yang akan di lewati jalan FTR.
       Selanjutnya, saya tidak akan membahas secara detail bagaimana proses pembangunan jalan FTR oleh Pemerintah Kota Surabaya. Tetapi, berkaitan dengan komunikasi antar budaya sebagai titik tolak pada tulisan ini, akan dipaparkan tentang bagaimana pembangunan turut serta dalam pengembangan komunikasi antar budaya bagi masyarakat baik yang secara langsung terkena dampak pembangunan maupun masyarakat yang memanfaatkan hasil dari pembangunan itu sendiri.

 B. Pedagang Kaki Lima Front Tage Road
       Lebih kurang ditahun 2009 silam Pemerintah Kota Surabaya mulai melaksanakan program pembangunan jalan FTR disisi timur jalan A.Yani. Pembangunan tahap pertama menyelesaikan penggarapan mulai dari depan Rumah Sakit Angkatan Laut (Rumkital) dr. Ramelan hingga pertigaan lampu merah Margo Rejo atau depan pusat perbelanjaan Maspion Square Margorejo. Kemudian pada pembangunan tahap berikutnya adalah kawasan Kelurahan Jemur Sari. Begitu pembanguna dilaksanakan ternyata mengalami hambatan karena terkendala proses pembebasan lahan Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel (IAIN SA) Surabaya belum selesai. Sehingga tahap pembangunan kedua FTR ini terhenti pada batas lapangan parkir selatan Jatim Expo yang kebetulan berdampingan dengan IAIN SA. Dari sinilah kita akan memulai menguraikan catatan cerita mengenai pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang jalan FTR (Rumkital sampai parkiran selatan Jatim Expo).
       Begitu pembangunan jalan FTR sisi timur jl. A. Yani selesai (Rumkital sampai parkiran selatan Jatim Expo) kawasan ini seakan menjadi tempat tersubur di Kota Surabaya untuk ditanami warung-warung kecil nonpermanen atau biasa kita sebut PKL. Mulai dari warung kopi dan minuman, makanan ringan sampai makanan berat (nasi, mie) tumpek blek memenuhi sepanjang trotoar FTR. Keadaan ini sangat berbeda ketika jalan FTR sama sekali belum dibangun. PKL ini rata-rata pindahan dari tempat lain yang telah digusur dan sebagian besar lain merupakan PKL baru yang ikut memanfaatkan keramaian. Dalam sekejap ratusan PKL dan ribuan pengunjung ramai memadati jalan yang baru saja selesai digarap oleh Pemerintah Kota Surabaya. Selama berbulan-bulan jalan FTR sepanjang Rumkital dr. Ramelan sampai dengan parkiran selatan Jatim Expo dipadati PKL dan para pengunjungnya. Tempat ini sepertinya menjadi kawasan PKL terpadat dan mengalahkan tempat-tempat PKL lain di Surabaya.
       Nampaknya keadaan ini membuat gerah pemerintah sehingga pemerintah menurunkan beberapa kompi personel Satpol PP untuk mengusir dan menjaga jalan baru kota Surabaya yaitu FTG. Jalan FTG yang berada di dua kecamatan (Wonokromo dan Wonocolo) masing-masing dijaga oleh Satpol PP pada wilayahnya masing-masing. Wonokromo untuk FTR sepanjang Rumkital dr. Ramelan hingga pertigaan lampu merah Margorejo dan jalan FTR sisanya sampai dengan parkiran selatan Jatim Expo untuk Wonocolo.
       Para PKL yang berasal dari berbagai macam daerah ini seperti bermain kucing-kucingan dengan aparat pemerintah tersebut. Wajar saja pemandangan seperti ini, dan kucing-kucingan adalah jurus andalan yang selalu digunakan oleh PKL ketika menghadapi musuh utama mereka, yaitu Satpol PP. Usaha seperti ini biasanya selalu berhasil karena mereka menggunakan bangunan nonpermanen atau gerobak dorong untuk berjualan. Ditambah lagi mereka yang belum saling kenal satu dengan yang lainnya menjadi kendala tersendiri untuk mengatasi permasalahan ini.
       Jika kita mau belajar dari para PKL-PKL di daerah Surabaya lainnya yang berhasil mengatasi permasalahan kucing-kucingan dengan pemerintah, karena dengan waktu yang lama mereka berjualan di daerah tersebut dan seakan tempat tersebut sudah seperti milik mereka sendiri mereka mampu menciptakan sebuah lingkungan sosial baru antara pedagang dan pembeli. Terutama dikawasan taman-taman Kota Surabaya, dengan berhasilnya menciptakan lingkungan sosial baru pemerintahpun dengan kekuasaan dan kebijakan yang dimiliki mengakomodir wilayah-wilayah tersebut menjadi sentra PKL yang pada akhirnya menjaga wilayah tersebut tetap ramai dan menjadi tempat resmi sebagai lahan pekerjaan masyarakat. Meskipun dengan konsekuensi mereka harus menyewa tempat yang didirikan oleh pemerintah tersebut.
       Falsafah jawa “tresno jalaran soko kulino”  sangat pas untuk diucapkan kepada para PKL FTR sisi timur jalan A. Yani. Setelah aktifitas berdagang mereka sempat dilarang oleh pemerintah, kini mereka tetap eksis dan mampu mempertahankan aktifitas berdagang disepanjang jalan FTR. Perbedaan latar belakang dan budaya para PKL seakan tak menjadi soal demi keberlangsungan hidup diesok hari. Perasaan senasib dan seperjuangan yang mereka rasakan tentunya menjadi kekuatan tersendiri dan memberikan spirit lebih bagi para PKL. Hal ini terbukti ketika kehadiran PKL jalan FTR juga memberikan lahan baru untuk para JUKIR (juru parkir) yang ikut mengais rejeki dari keberadaan para PKL jalan FTR sisi timur jl. A. Yani..

C. Munculnya Budaya Baru (Urban Culture)
       Kita semua tentunya sudah tahu dan faham dengan fenomena PKL di Surabaya ataupun kota-kota besar lainnya. Bagai petani yang selalu waspada dengan bahaya hama yang sewaktu-waktu dapat menyerang dan merusak tanamannya. Begitu pula dengan para PKL, mereka selalu waspada dengan musuh utamanya yaitu kebijakan pemerintah yang diwakili eksekutornya Satpol PP. Apa hubunganya hama tanaman dan Satpol PP? Tentu tidak ada. Ini hanyalah sebuah analogi saja untuk memudahkan dalam berpikir. Petani tentu senang untuk merawat tanamannya, dan tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain melihat hasil tanaman mereka subur tanpa adanya antisipasi terhadap serangan hama yang sewaktu-waktu dapat muncul dan menghabiskan tanaman mereka. Seperti para petani, para PKL pun akan senang apabila dagangan mereka laris tanpa peduli dimana mereka harus mendirikan dan menempatkan warung-warungnya.
       Petani dan hama tentu memiliki naluri yang berbeda, sama seperti PKL dan pemerintah juga memiliki naluri serta budaya yang sangat jauh berbeda. Pemerintah mungkin memikirkan nasib rakyatnya akan tetapi sejauh mana pemerintah berfikir mengenai nasib masyarakat dan solusinya tentu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mewujudkannya. Sedangkan para PKL tak mungkin berpikir lama-lama untuk dapat membeli sembako esok hari, memberi makan keluarga dan membayar iuran sekolah anak-anak bulan ini.
       Komunikasi sosial dan budaya terjadi karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda. Pada kondisi ini masyarakat akan menghasilkan sebuah budaya baru dalam lingkungan dimana mereka melangsungkan proses interaksi tersebut. Bagaimana perilaku masyarakat dirumah atau dikampung halaman tentu berbeda dengan perilaku mereka ketika berada dilokasi pekerjaan. Apalagi para PKL liar (menurut pemerintah) yang tidak memiliki kepengurusan dan pihak pengelola yang jelas. Secara perilaku pasti dapat kita bedakan bagaimana perilaku PKL terorganisir dan PKL tak terorganisir (liar). Diantara mereka memiliki tingkat kecemasan yang berbeda-beda. Terutama PKL tak terorganisir (liar) pasti memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi ketimbang para PKL yang terorganisir. Karena mereka merasa tidak aman dan sewaktu-waktu mereka dapat terusir dari lahan yang mereka gunakan untuk mendirikan dan menempatkan warungnya.
       Lahirnya sebuah budaya baru dalam lingkup masyarakat sering terlambat untuk kita ketahui apalagi kita sadari. Seperti halnya para PKL FTR ini, mereka melahirkan budaya baru pada lingkungan pekerjaan mereka sebagai dampak pembangunan yang kemudian menghilangkan kendala-kendala komunikasi yang menjadi alat utama interaksi sosial mereka. Bahkan budaya baru dapat terbentuk dengan sendirinya tanpa disadari dan membantu dalam melangsungkan hidup pada kumpulan masyarakat baru. Bukan dalam pengertian sempit, yaitu: sekedar pemenuhan kebutuhan basis material masyarakat di negara-negara dunia ketiga (baca: pembangunan ekonomi) semata. Tetapi termasuk realisasi basis immaterial seperti dimensi spiritual, etika dan nilai-nilai lainnya (materi kuliah Komunikasi Sosial Dan Budaya, Mochtar W Oetomo, UNITOMO)
       Layaknya sebuah siklus atau metamorforsis yang selalu berjalan dan berubah-rubah, kondisi sosialpun demikian. Interaksi sosial masyarakat pada titik tertentu akan mengalami sebuah perubahan sesuai apa yang terjadi pada proses interaksi sosialnya. Interaksi sosial masyarakat yang pada titik tertentu yang dilakukan masyarakat urban sehingga membentuk sebuah budaya baru dan menghilangkan kendala-kendala dalam proses hubungan komunikasi antar budaya saya sebut sebagai Urban Culture.

D. Penutup
            Kerjasama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (in-group-nya) dan kelompok lainya (out-group-nya). Seperti usaha yang dilakukan para PKL FTR untuk tetap menjaga eksistensi usaha perdagangan di area terlarang memaksa mereka untuk berurusan dengan pemerintah. Tanpa adanya kerjasama diantara para PKL FTR mustahil mereka mampu bertahan (melangsungkan aktifitas berdagang) pada area terlarang tersebut. Sebagai bentuk proses interaksi yang asosiatif, kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang-perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama (Gillin dan Gillin). Maka dari hasil kerjasama inilah proses interaksi anatar masyarakat yang memiliki latar belakang dan budaya berbeda-beda secara tidak sengaja menghasilkan dan membentuk sebuah budaya baru didalam kelompok baru tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar