A. Latar Belakang
Komunikasi merupakan keilmuan
yang memiliki kajian luas dan selalu berkembang bahkan dapat membantu untuk
mengkaji ilmu-ilmu sosial lainnya. Ilmu komunikasi seakan menjadi oase bagi
keilmuan sosial lainnya yang dapat membantu dalam mengkaji suatu objek atau
dalam mengkaji pengembangan keilmuan serta
menguji teori-teori ilmu komunikasi dan ilmu sosial sebagai relevansi
terhadap realitas.
Isu-isu kekinian dan
objek-objek yang memiliki pengaruh besar terhadap publik masyarakat biasanya
mendapat perhatian khusus dari para ilmuan dan akademisi serta masyaraakat
umum. Objek yang memiliki pengaruh besar biasanya cepat mendapat respon dari
kalangan ilmuan dan peneliti memiliki peluang besar untuk dikaji dan dianalisis
atau diteliti. Bagi masyarakat, isu kekinian dan objek-objek berpengaruh selalu
ramai untuk digunjingkan dan tak habis-habis untuk diomongkan. Realitas
tersebut tidakluput dari media yang memiliki fungsi sebagai pembentuk opini
publik, sehingga apa yang dikehendaki media seakan-akan menjadi kehendak
publik.
Media selalu mampu dalam
mengolah isu dan berita menjadi komunikasi yang efektif tehadap publik. Media
juga mampu memberikan penilaian secara tidak langsung terhadap suatu objek,
dan kemudian masyarakat sebagai konsumen media menjadi sasaran empuk bagi kepentingan-kepentingan media. Terlebih-lebih bagi media-media pemberitaan.
dan kemudian masyarakat sebagai konsumen media menjadi sasaran empuk bagi kepentingan-kepentingan media. Terlebih-lebih bagi media-media pemberitaan.
Media juga menjadi sasaran
empuk bagi para oknum, instansi pemerintahan, ormas dan perusahaan sebagai
media promosi produk dan pencitraan. Dengan biaya-biaya yang tidak murah
media-media memasang bandrol harga tinggi bagi pihak-pihak diluar media untuk
memanfaatkan media tersebut. Jelaslah bagi pihak yang kurang beruntung sangat
susah dan bahkan tidak mungkin dapat memanfaatkan media yang sangat besar
fungsinya dalam membangun citra dimasyarakat.
Beranjak dari sini, bagaimana
yang terjadi terhadap orang-orang yang tidak mungkin memanfaatkan media dalam
usaha dan kepentingannya? Seperti para pengusaha kecil, buruh, tukang becak,
bahkan para pengamen dan pengemis dijalanan. Mereka semua pastinya memiliki
cara dan trik dalam mengkomunikasikan usaha mereka. Sebagai pihak yang kurang
beruntung untuk dapat memanfaatkan media-media besar sebagai alat penyampai
pesan terhadap publik yang lebih luas. Terutama bagi mereka yang gagap
teknologi (jaringan internet).
Profesi seperti tukang becak
sering diidentifikasikan dengan orang-orang kelas bawah. Orang-orang kelas
bawah sendiri yang memiliki ruang gerak terbatas dan kurang menonjol sulit
mendapatkan perhatian dari para akademisi dan peneliti. Meskipun banyak teori
sosial yang lahir dari penelitian-penelitian terhadap objek masyarakat kelas
bawah.
Meskipun hanya berprofesi
sebagai tukang becak, pastinya mereka mempunyai cara-cara dan trik-trik yang
digunakan untuk melangsungkan kerja mereka. Cara-cara dan trik-trik inilah yang
menarik untuk kita ketahui. Sebagai tambahan materi dalam khasanah ilmu
komunikasi. Maka, dari sinilah saya tertarik untuk melakukan penelitian
terhadap tukang becak.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas,
maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana cara berkomunikasi
yang digunakan oleh tukang becak pasar Wonokromo Surabaya?
2.
Bagaimana keterlibatan pihak
lain dalam mengembangkan cara komunikasi tukang becak pasar wonokromo?
3.
Jika ada relevansi dengan
teori-teori komunikasi yang ada, teori komunikasi apakah yang digunakan tukang
becak pasar wonokromo Surabaya?
C. Definisi Konsep
1. Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi
(pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya,
komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua
belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh
keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik
badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala,
mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Model komunikasi yang akan digunakan dalam penelitian
ini adalah model Interaksional. Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur
Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di
antara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah:
dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar
ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi
menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi
manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang
lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai
kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interkasional
adalah umpan balik (feedback),
atau tanggapan terhadap suatu pesan.
2. Fenomenologi
Prinsip fenomenologi berkenaan dengan pemahaman
tentang bagaimana keseharian, dunia intersubyektif (dunia kehidupan) atau juga
disebut Lebenswelt terbentuk. Fenomenologi bertujuan mengetahui
bagaimana kita menginterpretasikan tindakan sosial kita dan orang lain sebagai
sebuah yang bermakna (dimaknai) dan untuk merekonstruksi kembali turunan makna
(makna yang digunakan saat berikutnya) dari tindakan yang bermakna pada
komunikasi intersubjektif individu dalam dunia kehidupan sosial. (Rini
Sudarmanti, 2005)
Dalam fenomenologi, setiap individu secara sadar
mengalami sesuatu yang ada. Sesuatu yang ada yang pada kemudian menjadi
pengalaman yang senantiasa akan dikonstruksi menjadi bahan untuk sebuah
tindakan yang beramakna dalam kehidupan sosialnya.
Berbicara mengenai sesuatu yang dikonstruksi, tidak
terlepas dari interpretasi pengalaman didalam waktu sebelumnya. Interpretasi
itu sendiri berjalan dengan ketersediaan dari pengetahuan yang dimiliki. Namun
demikian, sebagaimana proses interpretasi, harus diperhatikan kemampuan
menangkap lebih jauh atau melihat sesuatu lebih jauh (seeing beyond)
dalam fenomena yang sedang dikonstruksi. Jadi fenomenologi berusaha untuk
memahami bagaimana seseorang mengalami dan memberi makna pada sebuah
pengalaman. Inilah yang disebut dengan metode fenomenologi yang sesungguhnya. (Engkus
Kuswarno, 2009)
Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasan fenomenologi
pada perkembanganya sangat beragam dan kompleks. Sehingga dalam proses
penelitian ini sendiri perlu adanya penekanan mengenai tipe fenomenologi yang
akan digunakan dalam metode pendekatan penelitian. Salah satu tipe fenomenologi
yang akan digunakan yaitu Hermeneuitical phenomenology,
merupakan fenomenologi yang mempelajari struktur interpretatif pengalaman.
Seperti bagaimana memahami dan
menyatukan hal-hal disekeliling kita, termasuk diri kita sendiri dan
orang lain.(Encyclopedia of phenomenology,
Kluwer Akademic Publishers, 1997)
3. Tukang Becak Pasar Wonokromo
Surabaya
Tukang becak pasar wonokromo
surabaya adalah orang yang berprofesi sebagai penarik becak (kendaraan umum
roda tiga yang dioperasionalkan secara manual menggunakan kaki untuk mengayuh
kendaraan) dan beroperasi disekitar pasar Wonokromo Surabaya.

0 komentar:
Posting Komentar