RSS

Sabtu, 14 Februari 2015

Pengertian Kartun dan Karikatur

Pengertian Kartun dan Karikatur
Istilah kartun sudah dikenal oleh manusia  pada masa yang sangat lama. Dalam sejarahnya kartun diperkenalkan oleh Annibale Carraci pada abad-XVI yang memperkenalkan kata “karikatur” yang berasal dari kata carricare (melebihkan untuk memunculkan karakter) (Merriam 1994: 1712).
Kartun sendiri berasal dari kata “cartoon” yang berarti karton. Kata cartoon dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “kartun”. Secara historis cartoon hanya berupa kertas tebal yang digunakan untuk membuat sketsa rancangan dalam pembuatan fresco (lukisan dinding). Ketika itu sketsa karton tersebut menjadi acuan untuk dijiplak kedinding-dinding.[1]
The Ensyklopedia of Cartoon  membedakan secara lebih khusus terhadap cartoon sesuai dengan kegiatan yang ditandainya. Comic cartoon atau gag cartoon untuk lelucon sehari-hari. Political cartoon untuk gambar sindir politik. Animated cartoon untuk film kartun dan editorial cartoon digunakan khusus untuk kartun media pers cetak (surat kabar, tabloid majalah) yang berisi komentar dan sindiran terhadap peristiwa, berita ataupun isu yang berisi hangat dimasyarakat (Horn 1980: 15-24).
Definisi karikatur yang lainnya dari Encyclopedia Beritanika yang dikutip oleh Augustin Sibarani menjelaskan bahwa:
“karikatur adalah penyajian atau penggambaran seseorang, suatu type, atau suatu kegitan dalam keadaan terdistorsi, biasanya dalam suatu penyajian yang diam yang dibuat berlebihan dari gambar-gambar binatang, burung, sayur-sayuran yang menggantikan bagian-bagian dari benda hidup atau persamaanya dengan kegiatan binatang.” (Sibarani, 2001: 10)
Istilah karikatur berasal dari kata “caricatura” asal katanya yaitu caricare yang memiliki arti memberi muatan atau tambahan ekstra atau berlebih. Seperti yang di kutip oleh Augustin Sibarani menjelaskan bahwa:
“istilah caricare ini berkaitan dengan caratere yang berarti karakter, dan juga kata cara dari bahasa spanyol yang berarti wajah, dimana dalam karikatur peranan wajah merupakan unsur yang penting, karena wajah dapat menggambarkan watak seseorang dan juga menonjolkan cara-cara manusia dengan ciri-ciri yang khas.” (Sibarani, 2001: 11)

Kata “karikatur” baru populer dan di pakai dalam kehidupan dunia seni ketika pada tahun 1665, seorang seniman italia bernama Gian lorenzo Bernini memperkenalkan kata-kata “caricatura” dalam kunjungannya ke perancis. Disana Bernini memperlihatkan sejumlah karya yang unik dan mengandung unsur “distorsi”, dan sejak itulah kata khas “caricatura” menjadi terkenal dan mendapat tempat dalam sejarah.
Bila dilihat dari sejarah, gambar-gambar yang memiliki tipe karikatur sudah ada sejak jaman dahulu, dimana sejak jaman purbakala sudah ada goretan-goretan karikatural pada tembok-tembok gua yang menyampaikan pesan tertentu. menurut Muhammad Natshir Setiawan para seniman mesir kuno telah membuat gambar-gambar karikatur pada papirus dan dindimg-dinding piramid. Mereka menggambarkan fersonifikasi dewa-dewa dengan bentuk manusia setengah hewan. Bentuk-bentuk karikatur juga ditemukan di Yunani, dimana orang-orang Yunani sering mengejek dewa-dewa mereka dengan sindiran efektif sebagai bentuk alat melawan otoritas ( Setiawan 2002: 46).
Hal senada diungkapkan oleh sutarno yang di kutip oleh setiawan sebagai karya jurnlistik non-verbal, karikatur cukup efektif dan mengenah balik dalam menyampaikan pesan maupun kritik sosial. Di dalam karikatur dapat ditemukan unsur-unsur kecerdasan, ketajaman, dan ketetapan berpikir kritis dan ekpresif sebagai bentuk reaksi terhadap fenomena permasalahan yang muncul dalam kehidupan masyarakat luas (Setiawan 2002: 50)
Menurut Muhammad Natshir Setiawan menambahkan, meskipun bentuk representasi karikatur lebih didominasi oleh gambar, namun dinilai memiliki kekuatan politis. Hal ini dilihat dari karya karikaturis Amerika, Thomas Nast, yang membongkar kasus korupsi Wiliam M. Tweed dengan judul Tammany Tiger. Dimana karikatur mulai bergeser dari arti karikatur yang sebenarnya menjadi gambar yang bermuatan pilitis (Setiawan 2002: 50)
Menurut Sudarta yang dikutip oleh Muhammad Natshir Setiawan perkembangan karikatur sebagai wacana jurnalistik dapat menggiling interpretasi pembaca pada hal-hal yang lebih imajinatif. Hal ini dapat menjadi sarana pendewasaan pembaca terutama dalam menghadapi kritik. “
(Setiawan 2002: 50)



[1] Jurusan KPI F. Dakwah IAIN Sunan Ampel, Jurnal komunikasi Islam, volume 02, no. 1, 2012. H. 112.

0 komentar:

Posting Komentar